Selasa, 11 Juni 2013

Definisi Jilbab, Kerudung, Hijab, Purdah, dan Cadar

JILBAB, KERUDUNG, HIJAB, PURDAH,CADAR
Pasti familiar dengan istilah tersebut, tapi tahukah perbedaan dan definisi sebenarnya?

JILBAB
Berasal dari bahasa arab yang jamaknya jalaabiib artinya pakaian yang lapang/luas. Pengertiannya yaitu pakaian yang lapang dan dapat menutup aurat wanita, kecuali muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangan saja yang ditampakan. Jilbab ini hukumnya adalah wajib sebagai sebuah keharusan yang pasti atau mutlak bagi wanita dewasa yang mukminat atau muslimat.






KERUDUNG

Yang ini berasal dari bahasa indonesia. Bila dalam bahasa arabnya adalahkhimaar , jamaknya 

khumur yaitu tutup/tudung yang menutup kepala, leher, sampai dada wanita.
Sekilas kerudung memiliki definisi yang hampir sama dengan jilbab. Tapi tidak sama. Jilbab memiliki arti yang lebih luas, Karena Jilbab dapat diartikan sebagai busana muslimah yang menjadi satu corak, yaitu busana yang menutup seluruh tubuhnya, mulai dari atas kepala sampai kedua telapak kakinya yang jadi satu (menyatu) tanpa menggunakan kerudung lagi. Sedangkan Khimar itu (kerudung) hanya tudung yang menutupi kepala hingga dada saja. Sama halnya seperti Jilbab, kerudung ini hukumnya wajib.






HIJAB
berasal dari bahasa arab, artinya sama dengan tabir atau diding/penutup. Pengertian yang dimaksud dari hijab atau tabir disini adalah tirai penutup atau sesuatu yang memisahkan/membatasi baik berupa tembok, bilik, gorden, kain dan lain-lain.


PURDAH
Dapat diartikan dengar burdah yaitu pakaian luar atau tirai berjahit, mirip dengan‘abaaah/’abaayaa.


CADAR
Kain penutup muka atau sebagian wajah wanita, dimana hanya matanya saja yang nampak, bahasa arabnya khidir atau tsiqab, sinonim dengan burqu : marguk. Penggunaan cadar, purdah ini bersifat sunat.





MUKENA/ RUKUH
Saat ditanya apasih mukena, pasti umumnya akan menjawab “pakaian yang biasa digunakan wanita utk sholat”. Mukena (rukuh) menurut pengertian banyak orng memang diartikan kain selubung (baju kurung) bagi wanita yang diggunkan khusus saat shalat. Padahal sebetulnya tidak ada pakaian khusus untuk dipakaian dalam shalat, sebagaimana tidak ada pakaian khusus untuk para lelaki yang dipakai saat shalat. Yang dimaksud kain selubung/baju kurung itu sebenarnya adalah jilbab itu sendiri.

Istilah mukena itu berasal dari bahasa arab yang asalnya muqna’ah/miqna’ah. Dan mukena ini sebetulnya lebih mirip kerudung ketimbang jilbab, hanya sajamuqna’ah ini agak lebih panjang kebawah dibandingkan kerudung. 

Yaah meskipun umumnya banyak yang memiliki definisi berbeda tentang mukena ini, hal terpentingnya adalah busana Muslimat itu adalah busana yang dipakai sewaktu shalatnya: dengan kata lain pakaian di dalam shalat itu sama dengan busana muslimat yang dipakai seharihari. Walau ada sedikit perbedaan tapi keduanya sama: hanya menampakan muka/ wajah dan kedua telapak tangan samapai pergelangan tangan saja. Dan itulah Jilbab.













copas dari : 
http://terserahgwlaah.blogspot.com/2012/04/definisi-jilbab-kerudung-hijab-purdah.html 

Kamis, 30 Mei 2013

Bersabarlah Seperti Ayub

Nabi Ayub adalah salah-satu mausia yang memiliki rasa sabar tak terbilang. Sungguh tak terbilang, bahkan Allah membanggakan Ayub kepada banyak mahkluk, tentang betapa sabarnya beliau. Nabi Ayub sabar ketika dalam situasi berkecukupan, dalam limpahan harta, kebahagiaan. Pun juga sabar ketika dalam situasi susah payah.

Awalnya, Nabi Ayub adalah orang sehat, gagah perkasa, kaya raya, anak-anaknya banyak, juga merupakan keluarga yang terhormat, disegani banyak orang. Dia memiliki semua kemungkinan muasal rasa syukur dan bahagia, maka bersyukur dan berbahagialah Nabi Ayub. Hingga suatu ketika Allah hendak mengujinya, semua milik Nabi Ayub diambil satu persatu.

1. Harta kekayaan diambil, Nabi Ayub jatuh bangkrut, miskin
2. Dan belum cukup, teman-temannya, tetangga2nya mulai menjauh
3. Istri2nya minta bercerai, pergi meninggalkan, kecuali satu yang tetap setia
4. Semakin menyakitkan, ketika satu persatu anak-anaknya meninggal, dicabut nyawanya oleh Allah hingga tidak ada yang bersisa. Itu sungguh ujian pedih. Orang tua harus menyaksikan anak2nya meninggal.
5. Juga belum cukup sampai disana, jatuh sakitlah Nabi Ayub. Sakit yang ganjil sekali. Kulit di sekujur badannya mengelupas, penuh koreng, bernanah, berbelatung. Bau busuk menguar dari badannya, dan tidak hanya satu meter, bahkan tercium dari radius jarak jauh.

Ibarat sebuah pertandingan tinju, rasa-rasanya, bisa kita ilustrasikan, Nabi Ayub barusaja terkena lima pukulan bertubi-tubi, telak menghantam wajah. Apakah Nabi Ayub K.O? Terkapar di arena kehidupan, lantas mulai menyalahkan Allah, berprasangka buruk, bahkan dalam kasus kebanyakan membenci Allah, menghujatnya? Tidak. Sama sekali tidak. Menurut riwayat, bahkan Nabi Ayub sama sekali tidak mengeluh satu kata pun, tidak meminta bebannya segera diangkat, dia hanya bersabar, menerima ketentuan Allah. Apapun itu, Allah tahu lebih baik, apapun itu Allah sungguh tahu lebih baik.

Siang malam Nabi Ayub harus melewati masa-masa sulit itu. Tidak hanya satu minggu? Tidak hanya satu bulan? Tidak juga hanya satu tahun. Melainkan 18 tahun lamanya. Itu sungguh periode yang amat lama. Tapi Nabi Ayub tetap sabar, hingga Allah membuat keputusan. Penyakit tersebut sembuh, dia kembali menjadi laki-laki yang tampan dan gagah. Hartanya dikembalikan, keluarganya dipulihkan, posisinya, teman, kerabat, tetangga, semuanya kembali.

Jika kalian mendengar idiom: "sabarlah seperti Ayub", maka itu merujuk cerita ini. Sabarlah seperti Ayub, dalam situasi senang maupun susah. Karena kebanyakan dari kita, jangankan diuji dengan semua beban hidup, bahkan diuji kesabarannya dengan semua nikmat pun kita tidak bisa. Hidup nyaman, punya gagdet canggih di tangan, semua serba berkecukupan, bahkan kita tidak tahu ada jenis sabar lainnya yang amat relevan bagi kita: bersabar atas sesuatu yang justeru kita sukai.

Silahkan daftar sendiri apa saja yang kita sukai, dan bagaimana hal2 yang kita sukai itu merusak diri sendiri hanya karena kita tidak bisa menahan diri, tidak bisa bersabar atas hal2 tersebut. Waktu terbuang percuma, kehilangan untuk bermanfaat, adalah contoh kecil akibat buruknya. Maksiat, ingkar, adalah contoh lebih besar akibat buruknya. Orang2 yang melatih dirinya bersabar atas hal2 yang dia sukai, maka insya Allah, semoga dia akan lebih kokoh saat harus menerima jalan hidup yang tiba2 terbanting ke bawah, berkelok tajam, dan beban kehidupan datang. Semoga orang2 ini juga akan bersabar atas jenis sabar yang kedua, yaitu: bersabar atas hal2 yang tidak dia sukai. Tidak lulus SNMPTN, gagal jadi PNS, saya kira itu tidak ada apa2nya dibanding ujian untuk Nabi Ayub. Ingatlah selalu kisah beliau.

Bersabarlah seperti Ayub--seperseratus saja kita bisa menirunya, maka cukup sudah untuk berdiri gagah menghadapi ujian hidup ini.

*copas dari page Darwis Tere Liye.
**baca catatan seperti ini jadi malu sendiri.