Senin, 27 Januari 2014

Ilmu Deduksi


Catatan ini berusaha meyakinkan pembaca bahwa seseorang bisa mendapatkan banyak informasi jika Ia mau mengadakan pengamatan yang cermat dan sistematis. Bahkan dari ekspresi sesaat, sentakan otot atau lirikan mata, kita bisa mengetahui pikiran seseorang. Kesimpulannya tidak mengkin salah jika kita sudah terlatih untuk mengamati dan menganalisis. Orang awam mungkin akan menganggapnya paranormal, padahal semua itu merupakan hasil penalaran yang logis.


Dari setetes air, seseorang yang mengandalkan logikanya bisa menentukan apakah air tersebut berasal dari Samudra Atlantik atau dari air terjun Niagara, meskipun Ia belum pernah melihat kedua tempat itu.
Jadi, seluruh kehidupan bisa diumpamakan sebuah rantai besar, yang sifat-sifatnya dapat dikenali bila kita memperoleh mata rantainya.
Seperti cabang ilmu lain, kemahiran Deduksi dan Analisis hanya bisa diperoleh dengan belajar dalam waktu yang lama dan dengan penuh kesabaran.
Sayangnya, hidup manusia tidak cukup panjang untuk memungkinkan siapa pun mencapai kesempurnaan dalam bidang ini.
Nah, sebelum kita mencoba membaca pikiran orang seperti yang disebutkan di atas, sebaiknya kita mempelajari hal-hak yang lebih mendasar.
Saat bertemu seseorang, cobalah untuk menilai seseorang dari pengamatan sekilas. Sekali pun tampak sepele, latihan ini mempertajam pengamatan dan mengajarkan kita untuk mengetahui hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan.
Misalnya, kita melihat perempuan, memakai seragam sekolah (bisa diketahui usianya), memakai lipstik, kerudung tipis (sehingga rambutnya menerawang), cara dia mengenakan kerudungnnya, bedak wajah, membawa tas seperti mau jalan-jalan, perhatian selalu terfokus pada handphne, rok di atas mata kaki, gaya bicara, kata-kata yang diucapkan, cara berjalan, sikap.

Mustahil kalau setelah menggabungkan semua itu, Anda tak dapat menarik kesimpulan. :P

Tidak ada komentar: