Catatan ini berusaha meyakinkan pembaca bahwa seseorang bisa
mendapatkan banyak informasi jika Ia mau mengadakan pengamatan yang cermat dan
sistematis. Bahkan dari ekspresi sesaat, sentakan otot atau lirikan mata, kita
bisa mengetahui pikiran seseorang. Kesimpulannya tidak mengkin salah jika kita
sudah terlatih untuk mengamati dan menganalisis. Orang awam mungkin akan
menganggapnya paranormal, padahal semua itu merupakan hasil penalaran yang
logis.
Dari setetes air, seseorang yang mengandalkan logikanya bisa
menentukan apakah air tersebut berasal dari Samudra Atlantik atau dari air
terjun Niagara, meskipun Ia belum pernah melihat kedua tempat itu.
Jadi, seluruh kehidupan bisa diumpamakan sebuah rantai
besar, yang sifat-sifatnya dapat dikenali bila kita memperoleh mata rantainya.
Seperti cabang ilmu lain, kemahiran Deduksi dan Analisis hanya
bisa diperoleh dengan belajar dalam waktu yang lama dan dengan penuh kesabaran.
Sayangnya, hidup manusia tidak cukup panjang untuk
memungkinkan siapa pun mencapai kesempurnaan dalam bidang ini.
Nah, sebelum kita mencoba membaca pikiran orang seperti yang
disebutkan di atas, sebaiknya kita mempelajari hal-hak yang lebih mendasar.
Saat bertemu seseorang, cobalah untuk menilai seseorang dari
pengamatan sekilas. Sekali pun tampak sepele, latihan ini mempertajam
pengamatan dan mengajarkan kita untuk mengetahui hal-hal apa saja yang perlu
diperhatikan.
Misalnya, kita melihat perempuan, memakai seragam sekolah
(bisa diketahui usianya), memakai lipstik, kerudung tipis (sehingga rambutnya
menerawang), cara dia mengenakan kerudungnnya, bedak wajah, membawa tas seperti
mau jalan-jalan, perhatian selalu terfokus pada handphne, rok di atas mata
kaki, gaya bicara, kata-kata yang diucapkan, cara berjalan, sikap.
Mustahil kalau setelah menggabungkan semua itu, Anda tak
dapat menarik kesimpulan. :P
Tidak ada komentar:
Posting Komentar